b7caee18f14b90d2aa6149043444182d

Kabupaten Magelang Memperoleh Kategori Baik Dalam Pengelolaan Kearsipan

Semarang – Dasar pelaksanaan pengawasan kearsipan adalah Undang-undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang kearsipan. Pengawasan kearsipan dilakukan untuk membina penyelenggaraan sistem kearsipan nasional pada setiap pencipta arsip dan lembaga kearsipan sesuai dengan arah dan sasaran pembangunan nasional di bidang kearsipan. Dinas Kearsipan Dan Perpustakaan telah melaksanakan Rakor Monitoring Tindak Lanjut Hasil Pengawasan Kearsipan Eksternal Tahun 2018 yang dihadiri oleh 35 Kabupaten dan Kota Se-Jawa Tengah dilaksanakan di Hotel MG Setos.

Berikut hasil monitoring tahun 2018.

NO.KABUPATEN/KOTASTANDARPEROLEHAN%PREDIKAT
1Kabupaten Magelang4180370288Baik
2Kabupaten Purworejo4180364487Baik
3Kabupaten Jepara4180331479Baik
4Kota Magelang4180320777Baik
5Kabupaten Pekalongan4180324577Baik
6Kabupaten Wonosobo4180323377Baik
7Kabupaten Sragen4180316276Cukup
8Kota Pekalongan4180313075Cukup
9Kabupaten Kebumen4180310574Cukup
10Kabupaten Kendal4180305773Cukup
11Kabupaten Pati4180303273Cukup
12Kabupaten Rembang4180301372Cukup
13Kabupaten Purbalingga4180300772Cukup
14Kabupaten Cilacap4180297271Cukup
15Kota Surakarta4180294871Cukup
16Kabupaten Temanggung4180293570Cukup
17Kabupaten Demak4180288369Cukup
18Kota Tegal4180288069Cukup
19Kabupaten Banyumas4180280167Cukup
20Kabupaten  Karanganyar4180278867Cukup
21Kabupaten Grobogan4180278867Cukup
22Kabupaten Wonogiri4180281967Cukup
23Kota Salatiga4180275666Cukup
24Kabupaten Banjarnegara4180271165Cukup
25Kabupaten Pemalang4180267264Cukup
26Kabupaten Klaten4180285463Cukup
27Kota Semarang4180260162Cukup
28Kabupaten Kudus4180250560Kurang
29Kabupaten Semarang4180250960Kurang
30Kabupaten Brebes4180243058Kurang
31Kabupaten Blora4180240657Kurang
32Kabupaten Boyolali4180230755Kurang
33Kabupaten Batang4180229455Kurang
34Kabupaten Sukoharjo4180221053Kurang
35Kabupaten Tegal4180162939Buruk
e0f760db0a9ff8e81482d874217bec23

Mewujudkan Perpustakaan Sebagai Pusat Aktivitas Masyarakat

Jakarta – Kondisi perpustakaan di Indonesia yang beragam mendorong Perpustakaan Nasional melakukan berbagai upaya untuk mengembangkan dan menguatkan perpustakaan baik di provinsi, kabupaten/kota, desa, hingga komunitas. Upaya tersebut dilakukan di antaranya melalui skema Dana Alokasi Khusus, dana dekonsentrasi, bantuan buku, mobil perpustakaan keliling, motor perpustakaan keliling, hingga pengembangan perpustakaan digital melalui layanan e-resources, aplikasi iPusnas, hingga program Indonesia One Search (IOS).

Hal ini disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas Woro Titi Haryanti pada Pembukaan Seminar Nasional dan Rapat Kerja Forum Perpustakaan Umum Indonesia Tahun 2018. Kegiatan dengan tema “Pengembangan Perpustakaan Umum: Literasi untuk Kesejahteraan” tersebut berlangsung di Jakarta pada Senin-Rabu, 26 November-28 November 2018. Rapat kerja dihadiri perwakilan dari perpustakaan provinsi dan kabupaten/kota yang ada di Indonesia.

“Di Indonesia terdapat 154.358 perpustakaan yang terdiri dari 23.611 perpustakaan umum. Meski jumlahnya banyak, kualitas perpustakaan masih belum memenuhi standar nasional perpustakaan. Jumlah perpustakaan yang sudah terakreditasi di Indonesia untuk dinas perpustakaan tingkat provinsi baru 20 perpustakaan, jadi masih ada 14 yang belum terakreditasi. 74 dinas perpustakaan kabupaten/kota, berarti masih banyak lagi yang belum terakreditasi, sebanyak 425 yang belum terakreditasi,” jelas Woro Titi saat memberikan sambutan.

Selain skema bantuan, pada 2019, Perpusnas melakukan transformasi layanan berbasis inklusi sosial. Ada 300 perpustakaan desa di 60 kabupaten yang akan menerima pendampingan perpustakaan layanan berbasis inklusi sosial. Di sini, peran perpustakaan akan dioptimalkan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. “Hal ini dilakukan agar perpustakaan dapat menjadi pusat aktivitas masyarakat untuk belajar secara kontekstual serta berbagi pengalaman dan keterampilan. Sehingga melalui perpustakaan, masyarakat menjadi cerdas dan sejahtera,” jelasnya.

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menilai perpustakaan harus menjadi pusat syaraf lokal untuk informasi. Perpustakaan selayaknya menjadi ruang ketiga tempat orang mendapatkan pengetahuan dan menyerap pengalaman. “Tempat pertama itu rumah, tempat kedua tempat kerja dan belajar,” jelasnya saat membuka acara.

Dan menurut Anies, kunci dari perpustakaan yang maju dan berkembang adalah pustakawan. di tengah derasnya tsunami informasi, pengelola perpustakaan harus bisa inspirasi bagi orang yang mencari informasi. “Pustakawan bukan sekedar penjaga buku, tapi justru harus menjadi produsen, inspirator, penghubung, penyedia sumber daya, bahkan sebagai pendamping, pembimbing, dan guru. Jadi ini membutuhkan suatu rangsangan penumbuhan karakter pustakawan yang berbeda dari yang selama ini kita pahami,” tuturnya.

Para pustakawan diharapkan bekerja dengan dinamis dan kreatif, karenanya pustakawan harus banyak berinteraksi agar menjadi sosok yang inspiratif. “Pustakawan harus dibenturkan dengan pustakawan terbaik dunia. Kalau membangun gedung, kita bisa membayar arsitek. Tapi kalau berbicara tentang aktivitas, itu membutuhkan orang yang kreatif, inovatif. Bagaimana mungkin seorang pustakawan akan menginpirasi jika dia hanya berada di ruang tertutup dan tidak berinteraksi dengan lainnya, kecuali dengan koleksi?,” urainya.

Anies Baswedan mendorong jajarannya untuk belajar dari perpustakaan terbaik di Asia Tenggara, hingga Asia. Setelah belajar, Anies meminta jajarannya agar mereka melampaui apa yang sudah dikerjakan perpustakaan negara lain.

Terkait hal ini, Woro Titi mengucapkan apresiasi kepada kepala dinas provinsi dan kabupaten/kota yang berinisiatif mengembangkan dan menguatkan perpustakaan baik dari sisi infrastuktur, anggaran, SDM, maupun diversifikasi layanan. Hal ini membuat masyarakat semakin dekat dengan informasi.

Sumber : Perpustakaan Nasional

147695a31728de3f4e4b9cbf09d8e8c6

ANRI : Bersiap Menguji Kompetensi, Asesor Kearsipan Ikuti Bimtek

Jakarta (28/11) – Sebagai instansi pembina Jabatan Fungsional Arsiparis, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) bertanggung jawab untuk melakukan uji kompetensi terhadap Arsiparis yang akan naik jenjang jabatan. Penguji pada uji kompetensi tersebut adalah Asesor. Oleh karenanya, untuk memberikan pemahaman yang sama bagi Asesor, Direktorat Sumber Daya Manusia Kearsipan dan Sertifikasi melaksanakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi 22 orang asesor kearsipan jabatan fungsional arsiparis di Cosmo Amaroossa Hotel, Jakarta Selatan.

Deputi Bidang Pembinaan Kearsipan ANRI, Andi Kasman saat membuka Bimtek menjelaskan bahwa Bimtek ini menjadi salah satu medium bagi asesor untuk mereview kembali berbagai kebijakan dan peraturan tentang kearsipan dan jabatan fungsional arsiparis. Ditambahkan Andi, asesor yang dinyatakan lulus ujian, telah melalui berbagai penilaian dan memenuhi standar yang telah ditetapkan.

Pada bimtek kali ini, asesor memperoleh materi bidang kepegawaian khususnya jabatan fungsional arsiparis yang disampaikan perwakilan dari Badan Kepegawaian Negara, materi pemenuhan kompetensi manajerial dan sosiokultural jabatan fungsional arsiparis yang disampaikan dari perwakilan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dan materi teknik wawancara yang disampaikan oleh psikolog dari Universitas Indonesia. (tk)

Sumber : ANRI