layout styles

Pameran Virtual Kearsipan Jawa Tengah

Pameran Kearsipan dan Perpustakan yang pada tahun-tahun yang lalu dengan cara konvensional, banyak biaya, dan harus terpusat di suatu tempat. Pada Tahun 2020 ini dan dalam suasana pandemi Covid-19, dengan pertimbangan Waktu bisa lebih panjang, biaya lebih murah, cakupan bisa sangat luas, dan menghindari kontak langsung dengan banyak orang. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah mencoba berinovasi mempersembahkan Pameran Kearsipan Virtual yang diikuti oleh Kabupaten/kota se Jawa Tengah. Pelaksanaan pameran ini mulai tanggal 10 s.d 30 November 2020.





PAMERAN ARSIP VIRTUAL PERINGATAN HARI PAHLAWAN REPUBLIK INDONESIA



Hari Pahlawan Republik Indonesia 10 November 1945 merupakan peristiwa sejarah perang antara Belanda dan Indonesia pasca Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Untuk mempertahankan Kemerdekaan RI Para Pahlawan Nasional telah berjuang dengan segenap jiwa raganya demi Kejayaan Negeri tercinta ini.

”Jepang telah menyulut obor kemerdekaan Asia Timur Raya. Kita akan melanjutkannya dengan pembasmian imperialis kulit putih. Kita menerima arah yang disiapkan Jepang demi kemerdekaan tanah air Indonesia…”. Wakil Presiden Drs, M. Hatta menyampaikan pidato radio pada 29 Agustus 1945. (Pasak Sejarah Kekinian Surabaya 10 November 1945, 2018:16) Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Republik Indonesia Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, bekerja sama dengan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Se-Jawa Tengah menyelenggarakan PAMERAN ARSIP VIRTUAL dengan Tema :

ARSIP PERJUANGAN MEREBUT DAN MEMPERTAHANKAN KEMRDEKAAN DI JAWA TENGAH

BERSIAP MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN!

Merupakan kalimat sehari-hari yang mana ditakuti tawanan Belanda yang telah bebas dari penjara dan mengira bahwa Belanda akan segera kembali merebut Indonesia. Pertempuran 10 November ini merupakan pertempuran terbesar dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang merupakan simbol perlawanan rakyat Indonesia terhadap kolonialisme Semangat rakyat Indonesia menyala-nyala untuk melawan Belanda yang di tunggangi sekutu dengan persenjataan yang modern serta pengalaman dalam Perang Dunia II. Namun semangat rakyat Indonesia semakin memanas setelah perjuangan pahlawan terdahulu, RA. Kartini, Jendral Gotot Soebroto, Jendral Soedirman, Jendral Ahmad Yani, Brigjen Slamet Riyadi yang membangunkan semangat rakyat untuk melawan Belanda dan sekutu. Munculnya perlawanan diberbagai daerah Jawa Tengah semakin mencuat dalam dekade ini. Kini peristiwa 10 November 1945 dijadikan sebuah momentum untuk mengenang pahlawan khususnya di Jawa Tengah yang gugur dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Sources : https://www.academia.edu/30726790/MAKALAH_10_NOVEMBER_pdf PasakSejarahIndonesiaKekinianSurabaya10Nopember1945.pdf


RA. KARTINI

Raden Adjeng Kartini dilahirkan di Jepara pada tanggal 21 April 1879. Beliau adalah anak dari seorang bupati Jepara, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dengan Ibu M.A. Ngasirah yang bekerja sebagai guru agama di salah satu sekolah di Telukawur, Jepara. Dedikasi nya berawal ketika beliau berumur 12 tahun dilarang untuk melanjutkan studinya yang sebelumnya bersekolah di Europese Lagere School (ELS) di mana ia juga belajar berbahasa Belanda. Larangan untuk Kartini mengejar cita-cita bersekolahnya muncul dari ayahnya yang bersikeras bahwa Kartini harus tinggal di rumah karena usianya sudah mencapai 12 tahun. Selama masa itu, Kartini kecil mulai menulis surat-surat kepada teman-temannya yang kebanyakan berasal dari Belanda, di mana ia kemudian mengenal Rosa Abendanon. Dari Abendanon pula Kartini kecil mulai sering membaca buku-buku dan koran Eropa yang menyulut api di dalam hati Kartini, yaitu tentang bagaimana wanita-wanita Eropa mampu berpikir sangat maju. Api tersebut menjadi semakin besar karena ia melihat perempuan-perempuan Indonesia ada pada strata sosial yang amat rendah. Selama masa itu pula, Kartini sering berkorespondensi dengan teman-temannya di luar negeri, dan akhirnya surat-surat tersebut dikumpulkan oleh Abendanon dan diterbitkan sebagai buku dengan judul "Habis Gelap Terbitlah Terang". Kartini juga mulai banyak membaca surat kabar dan majalah-majalah tentang kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Kartini kecil sering juga mengirimkan beberapa tulisan yang kemudian ia kirimkan kepada salah satu majalah wanita Belanda yang ia baca, yaitu De Hollandsche Lelie. Terkadang pula dalam mengirim suratnya, beliau membuat catatan kecil, menyebut judul, dan mengutip kalimat-kalimat yang pernah ia baca Pada tanggal 12 November 1903, Kartini menikah dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojodhiningrat yang mana suaminya sangat mengerti cita-cita Kartini dan memperbolehkan Kartini membangun sebuah sekolah wanita. Dari pernikahannya dikaruniai seorang anak yang bernama Soesalit Djojoadhiningrat. Kartini kemudian menghembuskan nafas terakhirnya 4 hari setelah melahirkan anak satu-satunya di usia 25 tahun. Kartini dikenal sebagai wanita yang mempelopori kesetaraan derajat antara wanita dan pria di Indonesia. Hal ini dimulai ketika Kartini merasakan banyaknya diskriminasi yang terjadi antara pria dan wanita pada masa itu, Perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya karena salah satu temannya di Belanda, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan surat-surat yang dulu pernah dikirimkan oleh Kartini kepada teman-temannya di Eropa. Abendanon kemudian membukukan seluruh surat itu dan diberi nama Door Duisternis tot Licht yang jika diartikan secara harfiah berarti "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku ini diterbitkan pada tahun 1911, dan cetakan terakhir ditambahkan sebuah surat "baru" dari Kartini. Dalam surat-suratnya yang berbahasa Belanda, pada tahun 1922, telah di terjemahkan oleh Balai Pustaka dan menerbitkan versi translasi buku dari Abendanon yang diberi judul "Habis Gelap Terbitlah Terang: Buah Pikiran" menggunakan bahasa Melayu. Mulai tahun 1938, beberapa sastrawan telah menerbitkan versi translasinya sendiri dan beberapa translasi dalam bahasa lain juga mulai muncul. Semua ini dilakukan agar tidak ada yang melupakan sejarah perjuangan RA. Kartini semasa hidupnya itu. Sumber : Mengenang Sosok Kartini, Pelopor Emansipasi Wanita Indonesia yang Mati Muda, merdeka.com, reporter Shani Rasyid

JENDRAL GATOT SOEBROTO

Pada tanggal 10 Oktober 1909 di desa Tanjung kecamatan Jatilawang, Purwokerto telah lahir seorang laki-laki dari ayah yang bernama Sayid Yudoyuwono merupakan seorang guru di Tweede Inlandse School atau lebih dikenal dengan nama Sekolah Kelas Dua di Banyumas. Laki-laki itu adalah Gatot Subroto yang merupakan anak sulung dari delapan bersaudara. Di masa usia sekolah Gatot Subroto mengenyam pendidikan di Frobel School Banyumas atau pendidikan taman kanak-kanak selama dua tahun. Pada tahun 1916, Gatot Subroto terdaftar sebagai murid di Europese Lagere School (ELS), namun tidak sampai tamat karena terlibat perkelahian. Kemudian melanjutkan pendidikannya di Hollands Inlandse School (HIS) Banyumas diteruskan ke HIS Cilacap dan berhasil menamatkan pendidikannya pada 1927. Selesainya pendidikan Beliau memilih untuk bekerja dari menjadi pegawai di kantor Asistes Residen Cilacap sampai pada akhirnya bekerja di Pelabuhan Cilacap. Pada bulan Desember 1928, Gatot Subroto terdaftar sebagai taruna militer. Di Sekolah Aanbevolen Militair di Magelang untuk menjadi serdadu Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL) merupakan angkatan bersenjata Hindia Belanda bentukan pemerintah Kolonial Belanda sejak 1830, pada tahun 1931 lulus dan resmi menjadi tentara KNIL dengan pangkat sersan bumiputera kelas dua (Terminologi Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996:124). Pendidikan Polisi telah ditempuh di Sukabumi selama dua tahun. Pada 1936 ia ditugaskan di Meester Cornelis (saat ini dikenal sebagai wilayah Jatinegara) yang tergabung dalam kesatuan Marsose, memiliki pangkat Sersan Marsose bertugas untuk mengamankan daerah tersebut yang sering dilanda kerusuhan yang mengakibatkan rakyat menderita. Gangguan keamanan dalam bentuk serangkaian kegiatan kejahatan setelah terhimpit beban ekonomi dan terjerat lintah darat. Hal inilah yang terkadang mengganggu nurani Gatot Subroto. Di lain pihak Gatot Subroto berkewajiban menyelenggarakan keamanan sesuai tugasnya di sisi lain melukai rasa kemanusiannya. Namun ketika masa jabatan sebagai wakil KSAD hampir habis, dan pemerintah merencanakan untuk menyediakan kursi jabatan Penasehat Militer Presiden. Pada tanggal 11 Juni 1962 Letnan Jenderal Gatot Subroto meninggal dunia setelah menderita serangan penyakit jantung. Sebagai tempat peristirahatan terakhir, sesuai dengan pesannya, ia dimakamkan di Ungaran. Ia memiliki bintang jasa sebanyak tujuh belas. Untuk menghargai jasa-jasanya, pemerintah menaikkan pangkatnya menjadi Jenderal Anumerta. Penghargaan tertinggi diberikan Pemerintah berupa gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 18 Juni 1962. Gatot Subroto merupakan tentara yang memiliki karir kemiliteran dalam tiga zaman, yaitu kolonial Belanda, pendudukan Jepang, dan kemerdekaan Indonesia. Sumber : 148 Jurnal Prodi Ilmu Sejarah Vol. 3 No. 2 Tahun 2018 https://sejarah-tni.mil.id/2017/03/18/jenderal-gatot-soebroto/ (Koleksi Arsip Komando Daerah Militer IV/Diponegoro) Wajah dan Sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional JIlid II Departemen Sosial Republik Indonesia, 1982:98).

JENDRAL SOEDIRMAN

Pada tanggl 24 Januari tahun 1916 di Kota Purbalingga, tepatnya di Dukuh Rembang lahir seorang laki-laki yang bernama Soedirman dari pasangan Karsid Kartowirodji seorang pekerja di pabrik Gula Kalibagor, Banyumas, dan Siyem yang merupakan keturunan wedana Rembang. Beliau termasuk hidup dalam keluarga yang kurang mampu. Beliau menjadi anak angkat Keluarga Tjokrosoenaryo, dengan harapan agar kelak dia bersekolah dan diharapkan menjadi orang terpandang, berguna bagi agama, masyarakat dan negara. Di masa usia sekolah, beliau dapat mengenyam sampai pendidikan keguruan yang bernama HIS (Hollandsch Inlandshe School) Gubernemenatau HIS Pemerintah. Beliau sangat aktif dalam organisasi dan sudah menunjukkan kriteria kepemimpinan. Soedirman diangkat menjadi seorang Jenderal pada umurnya yang menginjak 31 tahun. Keaktifan beliau pada pramuka hizbul wathan sampai menjadikan beliau menjadi seorang guru sekolah dasar berlanjut menjadi seorang Kepala Sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Cilacap. Selesaimya pendidikan di PETA menjadi seorang Komandan Batalyon yang berada di Kroya, Jawa Tengah, menjadi seorang Panglima di Kota Banyumas dan Beliau juga pernah menjadi seorang anggota Dewan Perwakilan di Kota. Soedirman wafat di Magelang pada pukul 18.30 tanggal 29 Januari 1950, kabar duka ini dilaporkan dalam sebuah siaran khusus di RRI. Beliau wafat karena terjangkit penyakit tuberculosis. Panglima Besar Jenderal ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara di Semaki, Yogyakarta. Sumber : http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jih/Dika Restu Ayuningtyas, R. Suharso dan Ibnu Sodiq / Journal of Indonesian History 5 (1) (2016) Dinas Sejarah Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, 1985:230).


Panglima Jendral Soedirman mencoba menggunakan pesawat radio Telefoni Jawa-Sumatra di Yogyakarta pada 17 Agustus 1946. Sumber : Koleksi Pribadi Soepardjo Roestam, Dinas Arpus Provinsi Jawa Tengah.


Panglima Jendral Soedirman didampingi Letjen Oerip Soemohardjo melakukan inspeksi pasukan dengan naik kuda dalam peringatan hari APRI di Alun-alun Utara Yogyakarta pada 5 Oktober 1946. Sumber : Koleksi Pribadi Soepardjo Roestam, Dinas Arpus Provinsi Jawa Tengah.


Panglima Jendral Soedirman turun dari kereta api di Stasiun Jakarta pada 1 November 1946. Sumber : Koleksi Pribadi Soepardjo Roestam, Dinas Arpus Provinsi Jawa Tengah.


Tampak Panglima Jendral Soedirman keluar dari Stasiun Kereta Api Jakarta dan rakyat mengelu-elukan kedatangannya pada 1 November 1946. Sumber : Koleksi Pribadi Soepardjo Roestam, Dinas Arpus Provinsi Jawa Tengah.


Upacara pelantikan kelaksaran pusat dan seberang di Yogyakartay dipimpin oleh Panglima Jendral Soedirman pada bulan November 1946. Sumber : Koleksi Pribadi Soepardjo Roestam, Dinas Arpus Provinsi Jawa Tengah.

JENDRAL AHMAD YANI

Purworejo, Jawa Tengah adalah tempat kelahiran seorang Jenderal (Anumerta) Ahmad Yani pada 19 Juni 1922, ayah ibunya bernama Sarjo bin Suharyo dan Murtini. Beliau tiga bersaudara dan merupakan anak sulung. Yani adalah pemberian nama Hulstyn, ayah angkatnya yang seorang Belanda majikan ayahnya, akhirnya menjadi Ahmad Yani. Daerah tempat Yani dilahirkan tumbuh subur mitos kepahlawanan yang diwariskan dari masa perjuangan Pangeran Diponegoro. Telah mengenyam pendidikan Dasar di Bogor pada 1935, lulus sekolah setingkat sekolah menengah pertama Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) pada 1938, pendidikan ke Algemeene Middelbare School (AMS), setara dengan sekolah menengan atas, di Jakarta hingga kelas dua di AMS karena ada kewajiban mengikuti pendidikan militer dari pemerintah Hindia Belanda di Dinas Topografi Militer, Malang kemudian sekolah militer lanjutan di Bogor. Di masa Pedudukan Jepang pada 1942 berpengaruh pada karier militer beliau. Telah mengikuti pendidikan Heiho di Magelang, kemudian Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor dan lulus sebagai terbaik. Dalam rangka mempertahankan kemerdekaan RI, beliau berjuang sebagai komandan TKR Purwokerto. Di Pertempuran Pingit, pasukan Yani berhasil meredam Agresi Militer I Belanda (1947). Menjadi komandan Wehrkreise II, yang membawahi daerah Kedu, ketika Belanda melancarkan Agresi Militer II (1949). Berhasil mengatasi pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah pada 1952 dengan membentuk pasukan khusus yang diberi nama Banteng Raiders. Beliau mendapatkan kesempatan tugas belajar ke Command and General Staff College, Forth Leaven Worth, Kansas, Amerika Serikat (1955) dan Spesial Warfare Course, Inggris (1956). Keberhasilan memimpin operasi Tujuh Belas Agustus untuk mengatasi pemberontakan PRRI, 1958 kariernya telah memuncak. Ketika Indonesia sedang gencar mengupayakan pembebasan Irian Barat, Beliau diangkat Presiden Sukarno menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) dan pangkatnya dinaikkan menjadi letnan jenderal. Dalam kemelut politik yang penuh intrik itulah Yani dibangunkan dari tidurnya pada dini hari 1 Oktober 1965 oleh putranya, Eddy, atas permintaan pasukan Tjakrabirawa. Pasukan yang dipimpin Peltu Mukijan itu meminta Yani memenuhi panggilan presiden ke Istana.Perlawanan Yani menjadi dalih pasukan tersebut untuk menembaknya. Jendral Ahmad Yani gugur dalam peristiwa G.30S/PKI Dan di anugrahi gelar pahlawan revoluis 5 Oktober 1965 Sumber : https://historia.id/militer/ https://sejarah-tni.mil.id/2017/04/05/jenderal-ahmad-yani/

PAHLAWAN BRIGJEN SLAMET RIYADI

Rijadi terlahir dengan nama Soekamto di Surakarta, Jawa Tengah, 26 Juli 1927 dari pasangan Raden Ngabehi Prawiropralebdo seorang tentara Kasunanan, dan Soetati, seorang penjual buah. Dari usia satu tahun hingga menempuh pendidikan sekolah dasar, ia mendapatkan nama Slamet Rijadi. Setelah tamat sekolah menengah di tahun 1942, ia melanjutkan pendidikannya ke akademi pelaut di Jakarta sampai lulus kemudian bekerja sebagai navigator di sebuah kapal laut. Pada 14 Februari 1945, setelah Jepang mulai mengalami kekalahan dalam Perang Dunia II. Rijadi memimpin tentara Indonesia di Surakarta pada masa perang kemerdekaan melawan Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Dimulai pada tahun 1947 ia berperang melawan Belanda di Ambarawa dan Semarang, bertanggung jawab atas Resimen 26. Selama Agresi Militer I, Belanda mengambil alih kota tetapi berhasil direbut kembali oleh Rijadi, dan kemudian mulai melancarkan serangan ke Jawa Barat. Pada tahun 1950, setelah berakhirnya revolusi, Rijadi dikirim ke Maluku untuk memerangi Republik Maluku Selatan. Pada tanggal 3 Oktober, pasukan Rijadi, bersama dengan Kolonel Alexander Evert Kawilarang, ditugaskan untuk mengambil alih ibu kota pemberontak di New Victoria. Rijadi dan Kawilarang memimpin tiga serangan; pasukan darat menyerang dari utara dan timur, sedangkan pasukan laut langsung diterjunkan di pelabuhan Ambon. Setibanya di New Victoria, pasukan Rijadi diserang oleh pasukan RMS. Namun, ia tidak mengetahui akhir pertempuran tersebut. Ketika Rijadi sedang menaiki sebuah tank menuju markas pemberontak pada tanggal 4 November, selongsong peluru senjata mesin menembakinya. Peluru tersebut menembus baju besi dan perutnya. Setelah dilarikan ke rumah sakit kapal, Rijadi bersikeras untuk kembali ke medan pertempuran. Para dokter lalu memberinya banyak morfin dan berupaya untuk mengobati luka tembaknya, namun upaya ini gagal. Rijadi gugur pada malam itu juga, dan pertempuran berakhir pada hari yang sama. disinilah Rijadi gugur pada usia 23 tahun dan Rijadi dimakamkan di Ambon. Untuk menghormati Slamet Riyadi maka nama Slamet Riyadi menjadi sejumlah tempat, jalan, dan benda dinamai. Slamet Rijadi telah menerima berbagai tanda kehormatan dari pemerintah Indonesia. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganugerahi Rijadi gelar Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 66 Tahun 2007. Sumber : Mati Muda dengan Gagah Berani, tirto. 10, Humaniora, Profil Ignatius Slamet Riyadi


WEBINAR KEARSIPAN

"Arsip Sebagai Sumber Pengetahuan Masyarakat"

dilaksanakan pada Senin, 30 November 2020 pukul 08.30 melalui Zoom

Jangan lupa gabung dan ikuti berbagai acara diantaranya terdapat publikasi arsip, inovasi layanan kesehatan, naskah sumber arsip, arsip keluarga sebagai dokumentasi riwayat keluarga.

Persembahan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk masyarakat Jawa Tengah


Klik link join zoom dibawah pada hari Senin, 30 November 2020 pukul 08.30

Join Zoom

Webinar ini juga akan kami tayangkan secara live pada Channel Youtube Dinas Arpus Jateng



PAMERAN VIRTUAL KEARSIPAN

STAN LKD KABUPATEN DAN KOTA

Untuk melihat Pameran Kearsipan Virtual, arahkan dan klik pada salah satu icon Kabupaten dan Kota



SARAN DAN MASUKAN

Sampaikan saran dan masukanmu, karena sangat berguna bagi kami.
Saran Masukan

Opening Ceremony

Pembukaan Pameran Kearsipan

Arsip Emas semakin mudah



Layanan Arsip secara daring

Layanan Arsip

Arsip Hari Ini

Khazanah Arsip Dinarpus Provinsi Jawa Tengah

ARSIP HARI INI


B U K A
Flag Counter