Piagam Penghargaan

sertifikatlkd 2013

Piagam Penghargaan LKD teladan 2013

Detail Pengunjung

Unknown Unknown
Unknown Unknown
Unknown Bot Unknown Bot
Your IP: 54.83.224.32

Pustakawan Handal, Perpustakaan Terkenal

Perpustakaan akan memiliki integritas bila dimotori Sumber Daya Manusia ( SDM ) pengelola yang handal. Terlebih di era teknologi, SDM petugas perpustakaan harus selalu dikembangkan agar citra perpustakaan turut terangkat. Pengembangan SDM merupakan suatu keharusan yang harus dilakukan oleh setiap perpustakaan. Setiap manusia mempunyai hak yang sama dalam mengembangkan diri. Peluang untuk pengembangan disesuaikan dengan kemampuan dan minat dari pribadi yang bersangkutan. Akan lebih bermanfaat bila pengembangan dikaitkan dengan kemajuan teknologi informasi. Pengembangan perangkat lunak masing-masing prosedur pengelolaan perpustakaan mulai dari pengadaan, pengolahan teknis sampai ke sirkulasi dan pelaporan kegiatan menjadi suatu hal yang harus diterapkan di perpustakaan. Hal tersebut tentu saja akan melibatkan SDM yang mengoperasikannya. Berbagai jenis perangkat lunak sudah banyak ditawarkan pengembang kepada perpustakaan. Kebijakan ini perlu diberlakukan bagi setiap individu di perpustakaan terutama untuk meningkatkan mutu layanan yang diberikan kepada penggunanya. Perpustakaan  harus menyediakan sarana prasarana yang mendukung operasional yang berbasis teknologi, karena keuntungan akan dirasakan oleh perpustakaan dan pustakawannya. Pengembangan SDM harus direncanakan secara baik untuk menciptakan pustakawan yang handal demi peningkatan citra perpustakaan. Secanggih apapun teknologi diterapkan di perpustakaan, tidak dapat lepas dari Sumber Daya Manusia pengelolanya termasuk pustakawan. Dibutuhkan komitmen pustakawan bahwa apabila suatu perpustakaan sudah mampu untuk tampil secara virtual, maka para pustakawan pun sudah memiliki kesiapan untuk dapat menghadapi berbagai keluhan yang dihadapi. Pujiono ( 2008 ) mengatakan bahwa Pustakawan pada tataran ini telah menggunakan Sistem Manajemen Mutu ( Quality Management System ). Strategi yang ditawarkan untuk mengembangkan citra perpustakaan melalui 3 ( tiga ) pilar citra utama yaitu pertama membangun citra perpustakaan ( building image ), kedua meningkatkan citra pustakawan ( librarian image ), dan ketiga mengembangkan perpustakaan yang berbasis pada teknologi informasi dan komunikasi atau Information and Communication Technology ( ICT Based ).

Membuat Blog

Pustakawan yang telah familiar dengan teknologi informasi akan mampu membawa perpustakaan mengunjungi pengguna selama 24 jam setiap hari. Pengguna tidak perlu beranjak dari tempat duduk untuk mencari informasi di perpustakaan, cukup duduk di depan komputer, klik alamat perpustakaan yang dituju. Selanjutnya, pengguna dapat berkomunikasi dengan pustakawan melalui sarana yang ada di situs perpustakaan tersebut. Untuk memberikan layanan on-line, perpustakaan dapat menggunakan webblog atau blog yang tersedia di Internet. Blog merupakan situs web sederhana yang dapat dibuat oleh setiap orang untuk menyimpan dan mempublikasikan catatan atau tulisannya. Seorang pengunjung blog dapat memberikan komentar terhadap tulisan yang ada sehingga terjadi interaksi antara pemilik dengan pengunjung blog. Pustakawan yang kreatif dapat membuat blog untuk diri sendiri atau untuk perpustakaan. Di Internet, banyak terdapat situs yang menyediakan sarana untuk membuat blog, baik secara gratis maupun bertarif. Beberapa situs yang menyediakan sarana blog antara lain blogspot, blogger, xanga, wordpress dan yahoo360. Pustakawan dapat membuat blog di salah satu situs penyedia blog tersebut. Persyaratan membuat blog tidak sulit, cukup sebuah komputer yang terhubung ke Internet dan seorang pustakawan yang kreatif dan trampil menggunakan internet. Cara membuatnya juga sangat mudah karena situs penyedia blog menyediakan cara-cara dan petunjuk yang mudah dipahami, walaupun belum pernah menggunakan internet sekalipun. Selain itu, pembuatan blog tidak memerlukan biaya mahal karena banyak penyedia blog memberikan layanan secara gratis. Biaya yang diperlukan hanya untuk koneksi ke Internet. Walau demikian tidak selamanya permasalah teknologi informasi di perpustakaan dapat sukses hanya dengan mengembangkan software yang baik dan handal serta sesuai dengan kebutuhan kegiatan perpustakaan. Pustakawan yang tidak memiliki penguasaan komputer dan tidak memiliki keinginan untuk belajar sangat mempengaruhi dalam penerapan teknologi informasi di perpustakaan. Mereka sering menimbulkan masalah saat bekerja karena jadi tergantung kepada orang lain yang lebih pandai menggunakan komputer. Hal ini bisa mempengaruhi layanan perpustakaan tidak dapat berjalan lancar seperti yang kita kehendaki. Kalau demikian halnya, penerapan teknologi informasi bukannya semakin memudahkan pekerjaan, justru malah memperlambat dan menimbulkan masalah.

Perpustakaan Virtual

Kemajuan teknologi informasi yang dimanfaatkan pustakawan dapat mengembangkan perpustakaan. Pengunjung dapat mendatangi perpustakaan hanya dengan komputer yang terkoneksi internet. Situs perpustakaan menjadi gambaran tentang adanya perpustakaan virtual yang mengandalkan kemampuan akses melalui internet.  Pustakawan harus selalu memperbaharui isi informasi, seperti pembaruan data, berita dan lain-lain agar pengunjung tidak kecewa dan menarik. Apabila tidak selalu diperbaharui akan membawa dampak menjadi situs yang tidak menarik lagi untuk dikunjungi, bahkan bisa jadi ditinggalkan. Fungsi fitur kontak atau tanya jawab sangat membantu komunikasi antara perpustakaan, pustakawan dan pengguna. Fitur ini melaksanakan fungsi perpustakaan virtual sebenarnya. Fungsi dibangunnya perpustakaan virtual adalah menjembatani antara pengguna yang tidak dapat menjangkau perpustakaan secara langsung. Ketika pustakawan terlambat dalam menjawab pertanyaan atau bahkan sama sekali tidak menjawab pertanyaan pengguna, maka ancaman yang timbul adalah timbulnya mosi tidak percaya kepada perpustakaan. Kehadiran teknologi di perpustakaan mengundang polemik bagi sebagian pustakawan. Di satu sisi merupakan solusi bagi permasalahan yang dihadapi di perpustakaan, di pihak lain masih banyak pustakawan yang menganggap teknologi sebagai saingan. Irman Siswadi mengatakan bahwa teknologi di perpustakaan merupakan alat bantu menyelesaikan pekerjaan pustakawan secara efisien, karena banyak proses manual yang dipangkas. Pustakawan tidak perlu lagi menyediakan tempat untuk menyimpan dokumen atau formulir berisi data anggota karena dapat disimpan di komputer. Begitu juga dengan data transaksi peminjaman koleksi, dengan mudah dapat ditelusur melalui komputer. Pengguna membutuhkan efisiensi dan pemecahan masalah seperti itu untuk mencapai kepuasan yang dipengaruhi oleh jenis teknologi yang digunakan di perpustakaan. Umumnya, penilaian pengguna terhadap suatu teknologi adalah dari segi kemudahan menggunakan dan ketepatan memberikan hasil. Karena itu, sangat penting bagi pustakawan memilih jenis teknologi sesuai kebutuhan pengguna sehingga benar-benar bermanfaat untuk mencapai kepuasan pengguna.

Lawan atau Kawan

Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa masalah utama yang dihadapi pustakawan bukanlah pada keterbatasan teknologi yang ada, tetapi tidak adanya kepercayaan ( trust ) terhadap teknologi. Sebagian pustakawan masih ada yang menganggap teknologi sebagai saingan dan beban karena banyak pekerjaan manual yang hilang dan berakibat pada kurangnya kebutuhan akan pekerja manual. Selain itu pustakawan juga harus belajar mengenai teknologi itu sendiri. Bagi sebagian pustakawan, hal ini bukan hal yang mudah karena mereka harus mengubah kebiasaan dan cara kerja yang sudah lama dikerjakan. Tidak heran jika dikatakan bahwa masalah utama penerapan teknologi bukanlah menyangkut teknis, tapi lebih ke masalah nonteknis.  Maka, berpulang kepada pustakawan apakah akan menjadikan teknologi sebagai kawan atau lawan. Kalau teknologi adalah lawan, melawanlah dengan benar. Kalau teknologi adalah kawan, berkawanlah dengan benar pula. Perpustakaan adalah sumber ilmu pengetahuaan sering disebut sebagai jantung. Perpustakaan merupakan penunjang tujuan Pendidikan Nasional. Kalarensi Naibaho mengatakan bahwa seorang pustakawan yang baik akan membantu pemakainya dari A sampai Z untuk menemukan informasi yang mereka butuhkan. Kalau tidak dibantu dengan teknologi, kapan pustakawan mampu membantu pemakai perpustakaan secara sempurna ?.

Referensi

  1. Amiarsih I.P. Layanan Prima, Tidak Mudah tetapi Bisa Dilakukan. ( Sumber dari internet )
  2. Dahana, Sri Hindarjati. Komunikasi dan interaksi yang efektif. Disampaikan dalam penyuluhan bagi petugas pelayanan perpustakaan di lingkungan Universitas Indonesia, Depok, 25 Januari 2000.
  3. Dahlan, Ade. 2007.  Apa yang Membuat Perpustakaan FIB-UI Nyaman?. (Sumber dari internet )
  4. Kalarensi Naibaho. Pustakawan Perlu Terus Belajar. ( Sumber dari internet )
  5. Pendit, Putu Laxman. 1992. Makna informasi: lanjutan dari sebuah perdebatan. Dalam Kepustakawanan Indonesia: potensi dan tantangan. Editor, Antonius Bangun et.al. Jakarta: Kesaint Blenc.
  6. Pudjiono. 2008. Membangun Citra: Perpustakaan Perguruan Tinggi di Indonesia Menuju Perpustakaan Bertaraf Internasional. (Sumber dari internet)
  7. Siswadi, Irman. 2007. Teknologi di Perpustakaan : Kawan atau Lawan?. ( Sumber dari internet )
  8. Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan.  Jakarta : Gramedia.
  9. Sutarno. 2003.  Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia.

*Penulis adalah pemerhati perpustakaan tinggal di Blora

Tulis Komentar Anda


Security code
Refresh